Dr. H.M. Thoyib, I.M. | Tidak Berhenti Bekerja dan Belajar Membawa Perubahan untuk Sesama

  • By Teddy

HM. Thoyib, IM lahir pada tanggal 16 April 1940 di Dusun Bandar – Batokan Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Batokan adalah kampong kecil di pinggiran Bengawan Solo. Dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, keluarga petani kecil. Setahun setelah ia lahir, ayahandanya dipanggil Allah SWT. Praktis yang membesarkannya hanya ibunya seorang diri. Meskipun begitu semangat dan cita-cita sang ibu untuk membesarkan dan mendidik Thoyib kecil agar menjadi “orang” tidaklah surut.

Ibunya berharap kehidupannya kelak lebih baik dibanding orangtuanya. Thoyib lalu dimasukan ke Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1955 di kampungnya. Langkah sang ibu terbilang maju di zamannya, karena banyak anak-anak sebaya Thoyib kecil yang tidak masuk sekolah. Selesai mengenyam bangku Sekolah Rakyat pada tahun 1959 ia melanjutkan sekolah Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) Negeri Bojonegoro.

Lantas lanjut ke Sekolah Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) di Yogyakarta. Tidak puas sampai disitu. Thoyib berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Indonesia. Tahun 1972 ia diterima di Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang kini namanya berubah menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Langkahnya semakin mulus.

Pada tahun 1975 ia terbang ke Perancis untuk melanjutkan kuliah di Maitrese d’enseigment de Letters Modernes Universite Francois Rabelais, Tours, Perancis. 1978 Thoyib memperoleh gelar Docteur de Linguistique, Universitie Paris III. Kesukaanya belajar mengantarkannya masuk ke lingkungan Departemen Agama Republik Indonesia. Berbagai jabatan pernah ia emban.

Pada periode 1978-1983 Thoyib diangkat menjadi Staf Menteri Agama RI. Tahun 2004-2009 diera Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Thoyib didapuk kembali menjadi Staf Khusus Menteri Agama. Berbagai Negara sudah ia kunjungi. Amerika, Mesir, Perancis, Australia, Arab Saudi dan sebagainya. Semangat berbagi Thoyib juga tidak pernah hilang.

Agar ilmu yang ia peroleh bisa dilanjutkan kepada generasi berikutnya, Thoyib menerima tawaran berbagai Universitas untuk mengajar di sana. 1 April 1973 ia menjadi staf pengajar di Universitas Indonesia. 1 Juli 1981 ia pun dipanggil menjadi staf pengajar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah itu Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta ia masuki pada 1 April 2005.

Terakhir, 10 Agustus 2000 ia pun menerima menjadi staf pengajar pada Fakultas Sastra Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta. Hingga sekarang Thoyib masih aktif di semua Universitas tersebut. Terlalu panjang jika menyebutkan satu persatu prestasinya di sini. Namun bukti bahwa Thoyib total dalam hal pengabdiannya penghargaandemi penghargaan dia dapatkan.

Ia diberikan penghargaan Satyalancana Karya Satya Kelas II pada tahun 1993. Selain sang ibu, ternyata masih ada orang yang sangat berpengaruh untuk perkembangan karirnya. Di masa remaja Thoyib dipertemukan temannya kepada seorang gadis berlatar belakang Tionghoa. Saat masih Sekolah Menengah Pertama, Thoyib memberikan les privat matematika.

Pelajaran matematika terasa sulit bagi sang gadis itu, bahkan sampai tidak naik kelas karenanya. Berawal dari belajar timbul perasaan saling mengagumi. Namun Thoyib sadar bahwa latar belakang mereka berbeda. Ia berasal dari keluarga Jawa yang tidak mampu, sementara gadis itu berasal dari keturunan orang yang sangat berada.

Merasa yakin bahwa Thoyib bisa menjadi seseorang yang maju, gadis itu bahkan mengorbankan sebagian uang bulanannya setengah diberikan kepada Thoyib. Kondisi itu berlangsung sampai Thoyib kuliah di Universitas Indonesia. Kini Thoyib sudah tidak muda lagi. Ia memberikan pesan kepada generasi muda agar tidak pernah berhenti belajar.

Aktif diberbagai kegiatan. Manfaatnya banyak, kadang dirasakan dikemudian hari setelah jauh melewati masa-masa berorganisasi. Tidak semua anggota IKUPAD orang mampu. Tindakan nyata bisa kita lakukan membantu saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Salah satunya menjadi orang tua asuh. Thoyib bahkan memiliki 17 anak asuh. Ia memberi ongkos sampai SMA.

Bahkan ratusan pemuda yang layak sudah ia bantu menjadi pegawai negeri. Kegiatan-kegiatan jangan dilakukan hanya kumpul-kumpul saja. Tapi kalau bisa lebih memotret kampung halaman agak jarang. Maksudnya apa yang diperlukan kampung halaman saat ini.
Seperti Warta IKUPAD ini sebaiknya terus dilanjutkan supaya jadi ajang komunikasi. Thoyib memberikan contoh seperti keluarganya sekarang, semuanya harus bekerja. Semuanya harus sekolah setinggi-tingginya sehingga bisa membawa perubahan bagi sesamanya. Yang terpenting selalu ingat akan tanah kelahirannya.